1. Penulisan 'di', dipisah atau digabung?
Agaknya banyak pengguna bahasa Indonesia yang kesulitan untuk membedakan 'di' sebagai kata depan dan 'di' sebagai afiks (imbuhan).
Penggunaan 'di' sebagai kata depan penulisannya dipisah.
Contoh: "Saya tinggal di Jakarta."
Penggunaan di- sebagai afiks (imbuhan) penulisannya digabung.
Contoh: "Buku itu dibeli dari toko buku Gramedia."
Banyak orang yang membedakan pengguanaan itu dengan pedoman bahwa 'di' yang dipisah digunakan untuk menunjukkan tempat.
2. Penggunaan Kata 'di mana' bukan sebagai kata tanya
Dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari, banyak ditemukan kata 'di mana' yang difungsikan sebagai kata hubung dalam kalimat.
Contoh: "Rasanya seperti kembali pada masa lalu, di mana aku masih berusia sembilan tahun."
Penggunaan kata 'di mana' dalam kalimat tersebut tidak tepat.
Penggunaan kata 'di mana' dalam kalimat tersebut dapat diganti dengan kata 'saat' atau 'ketika'.
"Rasanya seperti kembali pada masa lalu, ketika aku masih berusia sembilan tahun."
3. Penggunaan huruf kapital dalam penulisan judul
Banyak yang menuliskan judul menggunakan huruf kapital di awal setiap kata.
Padahal, tidak semua kata harus dituliskan dengan huruf awal kapital.
Beberapa kata harus dituliskan dengan huruf awal kecil.
Kata-kata tersebut adalah kata hubung seperti 'di', 'ke', 'dari', 'pada', 'degan', 'dan', 'dalam', 'atau', 'terhadap', dan lain sebagainya.
Contoh: "Presiden Jokowi Blusukan ke Pasar Klewer Solo"
4. Penulisan bentuk terikat
Bentuk terikat penulisannya harus digabung dengan kata yang diikutinya.
Dalam bahasa Indoneisa, bentuk terikat yang sering salah penulisannya adalah maha-, tuna-, antar-, pasca-, ekstra-, multi-, dan sebagainya.
Beberapa ornag menuliskannya dengan terpisah menjadi:
Maha kuasa
Tuna netra
Antar anggota
Tidak ada komentar:
Posting Komentar